Lagi, Kriminalisasi Wartawan Terjadi di Palu

Palu,NJI — Lagi, dugaan kriminalisasi terhadap wartawan terjadi di Kota Palu Sulawesi Tengah. Kali ini menimpa Moh. Nasir Tulla, Jurnalis beritasulteng.id. hanya karena komentar kritis di media sosial terhadap Walikota Palu, wartawan muda yang juga merupakan anggota Forum Pers Independent Indonesia (FPII) itu terpaksa kini harus duduk di kursi terdakwa di Pengadilann Negeri Palu.

Kepada sejumlah wartawan di PN Palu, selasa (22/10), Nasir Tulla mengatakan bahwa proses hukum yang dialaminya terkesan adanya perlakuan diskriminatif karena memang dirinya diperhadapkan kekuatan kekuasaan nomor satu di Kota Palu.

“Saya ini korban kriminalisasi, saya nggak ngerti apa yang menjadi kesalahan saya, karenanya saya berharap suport kawan2 pers agar fakta tersebut dapat menjadi pertimbangan majelis hakim PN Palu,” ujar Nasir di PN Palu, selasa (22/10).

Pemantauan di PN Palu, sidang lanjutan ke dua atas dugaan tindak pidana terkait pelanggaran UU ITE, dengan terdakwa Moh.Nasir Tulla berlangsung di Pengadilan Negeri, Pada Selasa (22/10).

Dalam sidang tersebut, yang di mana dalam sidang sebelumnya sidang pertama pada Pengacara terdakwa Dicky Patadjenu, SH tegas menolak isi dakwaan dari jaksa penuntut umum.

Dalam eksepsi, yang dibacakan langsung oleh Penasehat Hukum Terdakwa Dicky Patadjenu, S.H, pihaknya menilai surat dakwaan JPU No.Reg.Perk : PDM – 192 / PL / Eku.2/09/2019, tidak jelas, tidak lengkap dan kabur.

“Klien kami didakwa berdasarkan ketentuan Pasal 45 ayat ( 3 ) Jo Pasal 27 ayat ( 3 ) UU No.19 Tahun 2016 tentang perubahan atas UU No.11 Tahun 2008 Tentang Informasi dan Transaksi Elektronik, yang kami nilai kabur, tidak jelas, dan tidak cermat, ” ujar Dicky.

Menurut Dicky, pengajuan Eksepsi ini didasarkan pada hal terdakwa sebagaimana diatur dalam pasal 156 ayat ( 1 ) KUHP dan pertimbangan bahwa ada hal-hal yang prinsipal yang perlu di sampaikan berkaitan demi tegaknya hukum kebenaran dan keadilan, “Sekaligus terpenuhinya keadilan yang menjadi Hak Asasi Manusia.
Penyeimbang dari surat dakwaan kami percaya majelis hakim akan mempertimbangkan dan mencermati segala masalah hukum, dan kami melihat permasalahan ini dari kacamata atau sudut pandang yuridis atau hukum positif yang ada semata,” papar Dicky di hadapan Ketua Majelis Ibu Aisah Mahmud, SH, MH.

“Sejauh ini kami pelajari surat dakwaan tidak cermat, tidak jelas dan tidak lengkap yang menyebabkan dakwaan kabur ( Obscuur Libel ),” tegas Dicky.

Diuraikan, dalam surat dakwaan poin 3 bertempat di rumah terdakwa membuat tulisan komentar berbunyi ” Siap bergabung Insya Allah dalam waktu dekat kita buat grup WA turunkan mereka berdua dan sama2 bergerak tanpa ada unsur kepentingan sama sekali, semata- mata niatnya selamatkan Palu dari pemimpin pemuja setan”.

Dan kutipan komentar itu bersumber dari status akun Cici Listia, dan di lanjutkan dengan komentar lain dari akun Siga Kuning” Manusia…Manusia itu Hidayat pemuja. Siapa yang bela Walikota di sini dia juga setan semua”.

Dicky mengatakan secara otomatis komentar-komentarnya itu masuk di akun Moh.Nasir Tulla selaku kliennya di karenakan klien kami berteman dengan akun Cici Listia dan Siga Kuning.

dimana status utamanya hanya berupa undangan seruan aksi demo turunkan Walikota Palu saat itu pasca bencana.

Dicky mengatakan, status facebook. Kliennya Terkait undangan aksi demo itu merupakan hal yang wajar saja di zaman demokrasi, dimana kita bisa rasakan bersama pada saat itu bagaiman perasaan masyarakat kota Palu dan semuanya mereka tuangkan rasa kekesalan dengan turun demo,”Perlu kita garis bawahi warga Palu saat itu bukan hanya turun demo melainkan banyak mereka tuangkan rasa kekesalan di media sosial saat itu dan kita semua tahu,”terangnya, seraya menambahkan menjadi aneh kalo kemudian kliennya saja yang menjadi sasaran jeratan hukum.

Karena itu, dalam eksepsinya Dicky selaku PH Moh.Nasir Tulla meminta agar majelis hakim menerima nota keberatan dari penasehat hukum, menyatakan surat dakwaan penuntut umum Reg.Perkara : PDM 192/PL/ Eku.2/09/2019 sebagai dakwaan yang dinyatakan batal demi hukum atau harus dibatalkan atau setidaknya tidak diterima, menyatakan perkara aquo tidak diperiksa lebih lanjut, memulihkan harkat martabat dan nama baik Moh.Nasir Tula alias Nasir dan membebankan biaya perkara kepada negara.

Atas dasar nota keberatan yang dibacakan penasehat hukum, jaksa penuntut umum akan melakukan jawaban tertulis pada sidang selanjutnya Selasa pekan depan,(29/10 ) @

 

Sumber : FPII Setwil Sulteng

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *